Ukhti, What Do You Love Me!
Ukhti, What Do You Love Me!
arsadill
“Terima kasih untuk semuanya telah mengajarkan arti kehidupan sesungguhnya. Zahra selalu menyayangi kalian karena Allah. Untuk sosok selaluku sebut namanya pertiga malam selamat tinggal. Semoga hatimu selalu dijaga oleh Allah.” Ucap Zahra dalam hati sebelum melangkah memasuki burung besi itu, “Allah akan mempertemukan kita dipersimpangan jalan-Nya. Dan aku akan menunggu waktu itu.”
Sepasang mata memperhatikan sosok yang telah hilang dari hadapannya, sosok yang akan pergi untuk waktu cukup lama dan sosok selalu ia pinta kepada Sang Pemilik hatinya. Ia akan menunggu sampai Allah mempertemukan dirinya dan perempuan yang telah membawa seluruh hatinya.
“Selamat Jalan calon Makmumku, calon Ummi untuk anakku nanti dan calon bidadari surgaku menempuh ilmu negeri seberang. Bila waktu tiba maka Aku akan memintamu dengan walimu dengan ikatan yang suci dan halal. Semoga Allah selalu menjaga hati kita. Aamiin.” Do’a Azka sebelum meninggalkan keramaian bandara ini.
***
Hai Ini ceritaku....
Berdamai dengan Hati
Alantas Internasional High School, para pelajarnya barusan keluar dari kelas waktu istirahat banyak ke menuju kantin, nongkrong di gazebo sekolah atau ke perpustakaan. Azka Mahendra Negara, Anak pengusaha terkaya dan penyumbang terbesar di sekolahnya ini tepatnya ia penguasa di sini selain anak orang kaya, Azka memiliki wajah rata-rata tampan, cool, cuek dan pintar meskipun begitu ia tidak seperti anak lainnya yang sok berkuasa dan lain-lain, Ia rada berbeda tetapi famous kalangan para pelajar di sini sampai guru-guru juga kenal dengannya hanya saja Azka sedikit tidak menyukai orang bodoh apalagi kalangan para kaum hawa yang sering mencari perhatian namun otaknya nol.
Azka tidak peduli dengan gosip mengenai dirinya yang sombong, cuek dan es kutub itu tidak mengurangi grade ke famous nya di sini tapi semakin famous saja.
"Azka, besok lo benar mau ke Tokyo?" Vino sahabat Azka juga tampan dan pintar bertanya dengan Azka masih stay membaca buku fisikanya. Sebuah anggukan kecil yang mengiyakan.
"Berarti kita tidak bisa bertemu lagi?" Tanya Dimas seraya mengaduk jus mangga sudah dipesan sejak tadi.
"Masih bisa, guekan hanya sebulan kesana." Azka menjawab tanpa berpaling dari buku fisika masih dipegangnya.
"Iya juga ya, sori gue lupa." Dimas nyengir sedikit menggaruk leher belakangnya tidak yang tidak gatal.
Temannya senyum lihat kepolosan Dimas.
Selang berapa jam datang Aga Cs musuh bebuyutan Azka Cs mengacaukan suasana kantin semakin mencekam seperti rumah hantu. Mata tertuju kepada mereka semua, apa yang akan terjadi dua bersaudara beda ibu itu bertemu. Mungkinkah terjadi dua hari lalu mereka berkelahi belakang sekolah karena kesalahpahaman Aga terhadap Azka mengira jika Bella pacarnya sekarang mendekat pelukan Azka tepatnya Azka akan merebut Bella kenyataannya mereka hanya sahabat sejak kecil. Aga sudah cemburu buta bahkan sangat benci saudara se ayahnya ini selalu di puja bahkan disukai banyak orang.
Apa kelebihan dari Azka yang hanya topeng saja depan mereka sedangkan belakang mereka semua Azka tidak lain seorang naif haus pujian. Sorot mata kebencian Aga terlihat jelas menatap tajam Azka, hanya saja ia tidak berminat untuk buat masalah dengan Azka karena Aga telah berjanji dengan seorang akan bersikap lebih tenang tidak arogan ataupun tersulut emosi.
Aga Cs lewat depan tempat duduk Azka Cs tidak ada perkataan kasar ataupun hinaan sering mereka lontarkan. Semua orang kebingungan sikap Aga tidak biasanya, ada yang merasa lega melihat itu bahkan ada yang menginginkan seperti biasa.
"Lo kok si coren gak berantem dengan si cogan sich, iiihhh gak seru ini."
"Wah mimpi apa gue semalam lihat dua saudara itu tidak ribut."
"Serasa di rumah hantu eeeehh tapi gak jadi."
Banyak celetukan pengunjung kantin siang ini, membuat suasana kantin tambah ramai. Azka juga sedikit heran dengan Aga bersikap baik dengannya atau hanya siasat saja. Azka tidak menghiraukan perubahan Aga dan celetukan para pengunjung kantin, ia dan sahabatnya beranjak dari kantin menuju kelas karena bel masuk pelajaran sudah bunyi se menit lalu. Misteri Aga !
@@@@
"Bundaaaaaaa...." Teriak Aga baru pulang sekolah memasuki rumah kelihatan sepi tanpa penghuni seperti biasa tidak ada suara ataupun apa ini membosankan rumah sebesar ini dihuni olehnya, Bu Ulfa, Elsa adiknya baru masuk sekolah dasar dan dua pembantunya itu akan pulang habis isya jangan tanyakan dimana Ayahnya jelas ia berada di rumah istri pertama nya orang tua Aska.
Kenapa ia harus dilahirkan dari keluarga tidak bahagia ini. Bundanya selalu bersikap manis bahkan tidak terjadi apa-apa, Aga mengerti bundanya menyesal mengambil keputusan menjadi madu meskipun Bu Rahma menerima Bundanya jadi Madu tetapi mana ada seorang istri rela berbagi dengan orang lain. Aga benci semua kehidupan, kekayaan bahkan dirinya pun di benci. Namun demi adik kecilnya Elsa rela pura-pura bahagia menerima setiap kehidupan tersebut.
Aga melempar tasnya sangat kasar atas kasur, ia menjatuhkan tubuhnya atas kasur yang empuk perlahan kelopak matanya terpejam mengingat setiap penolakan dari keluarga Bu Rahma menganggap bu Ulfa lah perebut suami orang, ayahnya.
Walaupun sekarang keadaan telah berubah akan tetapi kenangan pahit masih membekas setiap ingatan. Saat itu Aga masih berumur lima tahun namun ia mengerti setiap orang memandang bundanya dengan kebencian dan kehinaan bahkan lontaran kata-kata tidak pantas harus di dengarnya. Aga ingin ingatan masa kelam tersebut hilang tidak terus menghantui dirinya dan menguasai hati serta pikirannya harus membenci pak Reyhan serta Azka.
"Kenapa Ya Allah, Aku harus lahir di keluarga ini!" Teriaknya menangis sambil melempar semua bantal ke mana saja.
"Aga keluar nak, tolong nak keluarlah Bunda mau bicara kepadamu!" Pinta Bu Ulfa luar kamar terdengar cemas dengan keadaan Aga dalam kamar.
Ia takut Aga akan melakukan yang tidak-tidak seperti kejadian sebulan lalu, ia sempat bunuh diri hampir saja cepat ketahuan dan lansung di selamatkan. Jika tidak entah apa yang akan terjadi. Membayangkan saja tak sanggup.
Aga mengatur napasnya dan keadaannya sangat kacau sebelum menemui Bu Ulfa balik pintu.
"Nak, kamu tidak apa-apa! Bunda tadi dengar kamu berteriak. Bunda paham kamu belum bisa menghapus setiap kenangan itu, tapi nak maafkan dirimu sendiri dan maafkan setiap keadaan agar kamu tidak seperti ini.” Ucap Bu Ulfa memegang tangan Aga.
Aga menunduk, tubuhnya terguncang karena tangisan, Bu Ulfa memeluk anak sulungnya sangat erat ia mencium pucuk kepala Aga dengan kasih sayang. Bu Ulfa tidak mampu lagi mengeluarkan air mata, ia sudah mengikhlaskan semuanya demi kedua anaknya.
Aga menatap dua manik mata cokelat milik bundanya suatu ketegaran yang terpancar, lukisan senyum tulus terukir. Ia menangis pelukan bu Ulfa.
“Jadilah anak yang tegar dan kuat, Aga! Kamu anak laki-laki bunda yang akan melindungi Bunda dan adikmu, jangan menangisi telah berlalu anakku. Masa depanmu sangat panjang nak! Bunda harap kamu jangan berantem dengan saudaramu lagi meskipun ia bukan saudara se rahim tapi darahmu dan darahnya sama dari satu orang laki-laki ya ayahmu….” Nasihat bu Ulfa menghapus air mata anak sulungnya, “jangan benci mereka anakku karena mereka adalah keluargamu, ketahuilah anakku, ayahmu begitu menyayangi kalian meskipun caranya begitu kaku, begitulah ayahmu meluapkan kasih sayangnya kepada anak seperti itu! Ayahmu adil anakku, ia tidak memihak siapa pun karena ayahmu sosok yang begitu baik.” Ujar bu Ulfa menatap mata anaknya sedikit tersenyum.
“Bukankah kamu ingin mempunyai keluarga bahagia anakku?” Tanya Bu Ulfa mengusap kepala Aga. Aga mengangguk.
“Sekarang kamu ganti pakaian terus makan,” Aga mengangguk sambil mencium pipi bundanya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertemuan Pertama
Cuaca mendung hari ini, langit tampak gelap menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Perempuan berhijab panjang berdiri di halte bus, ia melihat sekitar jalan tidak ada tanda-tanda mobil angkutan ataupun taksi. Mondar- mandir seperti gosokan memandangi jarum jam melingkar pergelangan tangannya sudah pukul 14:30 Wib, tetapi belum ada angkutan. Perempuan berhijab tersebut menghela napas panjang seandainya ia mempunyai sopir pribadi pasti tidak seperti ini, Zahra langsung istigfar telah memiliki pikiran seperti tadi. Ia hampir telah kufur nikmat, seharusnya bersyukur telah merasakan pendidikan, memiliki keluarga utuh meskipun sederhana bukan seperti orang di luar sana mungkin kurang beruntung.
Zahra anak yang cerdas, ia mendapatkan beasiswa sampai ke bangku kuliah, saat ini Zahra duduk kelas 12 Madrasah Aliah Negeri daerahnya, orang tuanya sebagai pegawai negeri dan mempunyai dua kakak laki-laki sekarang menempuh studi di luar negeri yang mendapatkan beasiswa. Ia anaknya mandiri terkadang manja mengingatkan dirinya anak busung, orang tuanya mampu untuk menyewakan sopir atau memberikan fasilitas transportasi, tetapi Zahra menolak semuanya karena hal tersebut pemborosan dan menambahkan tingkat polusi serta kemacetan.
Rintik-rintik air hujan berjatuhan di bumi, angin menerpa wajah ayu milik Zahra. Ia sudah kedinginan menunggu angkutan belum juga datang. Menelepon orang tuanya itu sudah menyusahkan inilah prinsip Zahra yang mungkin harus di hilangkan, ia pantang menyusahkan orang lain apalagi orang tuanya.
Hampir setengah jam hujan turun, sudah sejam Zahra menunggu angkutan tak kunjung datang. Hari tambah sore, perutnya mulai keroncongan karena belum makan siang tadi, mau mencari makan tetapi hujan membuatnya harus menahan lapar dan kedinginan karena terpaan angin.
“Lo masih betah ya nunggu angkutan! Sudah sejam mungkin lebih tapi angkutan tidak datang.” Suara laki-laki sudah berada di belakangnya, Zahra meminggir kesamping, entahlah siapa laki-laki yang ada di belakangnya, horor.
“Apa lo tidak telepon bonyok lo gitu minta jemput! Eeehh masih betah…” Celetuk laki-laki tersebut berulang kali.
Zahra beristigfar dalam hati, apa maksudnya orang yang tidak dikenalnya bicara seperti itu.
Zahra tambah bete berada di halte ini mendengar ocehan laki-laki yang sudah di sampingnya, ia tidak mau menoleh untuk melihat wajah laki-laki iseng plus aneh tersebut. Zahra menghembus napas singkat sedikit beristighfar.
“Lo ini gak sopan ya! Orang ngajak ngomong didiami malahan asyik dengan memandangi jalan... apa menarik jalan itu,” kesal laki-laki tersebut sudah berdiri depan Zahra, sontak Zahra melotot arah laki-laki tersebut, ia tidak menghiraukan tatapan kesal dari laki-laki tersebut,” Hei! Gua ngomong sama lo.” Teriak laki-laki tersebut depan wajah Zahra yang tetap mempertahankan prinsip untuk mengalihkan pandangan.
Zahra sudah ingin memakan laki-laki tersebut seenaknya marah terus berteriak depannya lagi. Siapa juga yang mau ngomong dengannya, kenal saja enggak. Pikirnya sewot dalam hati, “maaf ya Ikhwan, saya nggak kenal sama ikhwan terus ikhwan malahan marah dan berteriak sama Saya.” ucap Zahra sedikit tenang.
“Nama gua Aga bukan ikhwan, lo ini ya seenaknya banget ganti nama orang,” sungut Aga sedikit kesal.
Zahra memutar matanya jengah meladeni cowok di depannya, ia sedikit mundur ke posisinya yang benar tidak baik, Aga semakin mendekat membuat Zahra semakin melotot dan marah, “apaan sih kamu dekat-dekat! Ingat kamu bukan mahram saya jadi jangan pernah dekat-dekat seperti ini.” Tukas Zahra tampak marah.
Aga tersenyum sedikit mundur, “apaan lagi itu mahram?’’ Tanyanya heran.
Zahra menghela napas dan menghatur hatinya sempat tergoda oleh setan, “mahram itu apabila memiliki ikatan halal seperti menikah, kalau belum ada ikatan nggak boleh dekat-dekat seperti kamu tadi.” Jelas Zahra tetap tenang walaupun sedikit kesal sama makhluk-Nya ini.
Aga mengangguk saja sambil tersenyum manis, “ooohhh begitu, jadi gua nggak boleh dekat-dekat sama lo, ya sudah…” Aga diam sejenak menatap Zahra lamat, sebenarnya Aga sudah mengagumi perempuan berjilbab di depannya saat ia mengantar Elsa tempat les biola kebetulan melewati jalan tempat sekolah Zahra dan melihat Zahra duduk sendirian menunggu angkutan di halte berjam-jam karena angkutan jarang sekali lewat jalan sekolahnya Zahra itu pun kalau beruntung.
Aga pernah mendapati Zahra harus pulang jalan kaki karena sudah sore terus angkutan juga tidak ada apalagi jalanan sekolahnya sangat sepi hanya mobil yang alu halang.
Aga benar bosan bersembunyi dalam mobil melihat Zahra yang menunggu angkutan dengan cuaca yang tidak bersahabat apalagi Zahra menahan kedinginan karena hujan. Ia langsung turun dari mobil menghampiri Zahra di halte walaupun ia harus pura-pura menunggu angkutan seperti Zahra.
“Ya sudah begitu, bagaimana kita menikah saja biar bisa dekat-dekat gitu.”
Zahra terkejut mendengar perkataan cowok yang tidak dikenalnya tersebut, ia menggeleng kepala saja, “bagaimana?” Aga bertanya dengan Zahra sambil menaikan sebelah alisnya.
“Astagfirullah, kita belum kenal seenaknya kamu omong seperti itu,’’ kesal Zahra terus beristigfar. Aga malahan tersenyum melihat reaksi Zahra benar kesal dengannya, perempuan yang menarik tepatnya tidak tertarik dengan pesona dimiliki Aga, jika perempuan lain maka akan terkagum-kagum melihat pesonanya bak dewa Yunani dan jatuh lutut di hadapannya. Aga terus menggeleng kepala. Zahra beristigfar terus melihat Aga menggeleng kepala sendiri terus senyum sendiri, ia ingin cepat pulang.
“Baiklah jika lo mau seperti itu, kita kenalan bagaimana?” Tawar Aga mengulurkan tangannya. Zahra diam saja tidak menyambut uluran tangan cowok nyebelin di depannya ini.
Aga menarik tangannya sedikit melihat telapak tangan mungkin kotor sehingga Zahra tidak mau menjabat tangannya. Tidak ada kotoran, Aga kembali mengulurkan tangannya berharap Zahra menjabat tangannya, tetapi Zahra menangkupkan tangannya di dada. Aga tampak kesal, apakah sekotor begitu tangannya!
“Maaf bukan tidak mau menjabat tangan ikhwan tapi ikhwan bukan mahram saya.” Ucap Zahra mengerti pikiran Aga.
Aga tampak mengangguk paham, sedikit senyum, “ok gua paham, nama gua Aga Putra Mahendra Negara panggil saja Aga,” Aga memperkenalkan diri.
Zahra mengangguk,” Zahra.” Lirih Zahra sambil menghentikan angkutan sudah datang.
“Ehhh... Tunggu dulu! Zahra apa panjangan nya,” panggil Aga terhadap Zahra akan masuk kedalam angkutan. Zahra menoleh, “Fatimah Azzahra, Assalamu’alaikum.” Aga mengingat nama Zahra dalam hatinya, ia tersenyum melangkahkan kakinya menghampiri mobil sport nya terparkir di depan pagar sekolahnya Zahra.
Sepanjang jalan Aga terus tersenyum membayangi pertemuannya dengan Zahra bawah halte sekolah, bersama derasnya hujan turun menambahkan suasana semakin romantis bahkan kekonyolan dilakukan tadi. Aga menggeleng kepala sambil mengendarai mobilnya dengan tatapan fokus ke jalanan. Ia membelah jalan raya menuju kompleks rumahnya, hampir setengah jam berkendaraan membuatnya cukup lelah akan tetapi Aga sangat bahagia hari ini.
Di sisi lain, Zahra telah siap-siap untuk Sholat berjamaah Musolah pribadi rumahnya. Habis Sholat keluarga mereka akan mengaji terlebih dahulu kemudian makan malam bersama setelah makan mereka akan kumpul-kumpul di ruangan keluarga seperti biasanya Pak Ali akan menanyakan sekolah Zahra, mengobrol untuk mempererat komunikasi antar keluarga. Zahra bersyukur mempunyai kedua orang tua yang menyayangi dirinya dan kedua kakak laki-lakinya.
“Kapan ujian semester, Zahra?” Tanya Pak Ali sembari menggambil secangkir cokelat hangat atas meja, Zahra tersenyum, “Alhamdulillah satu bulan lagi, Bi.”
Bu Merissa ikut bergabung meletakan sepiring cup cake cokelat menggugah selera, Zahra langsung mengambil sepotong cup cake, tidak satu menit cup cake telah habis di lahapnya. Ia menyukai cup cake sejak kecil apalagi buatan Uminya tidak akan di siakan begitu saja. Sepasang suami istri tersenyum melihat anaknya lahap menghabiskan cup cake sepiring sendiri. Zahra merasakan di perhatikan hanya senyum saja sedikit mengaruk tekuk lehernya yang tidak gatal.
Bu Merissa mengusap kepala Zahra, “mau menambah lagi, nak? Umi sudah buat banyak untuk anak bungsu kesayangan Umi dan Abi.”
Zahra mengangguk malu, Bu Merissa beranjak dari duduk melangkah dapur mengambil cup cake yang baru keluar dari oven.
“Makasih Umi cup cake nya memang top enak banget!” Seru Zahra mengacungkan ibu jarinya, Bu Merissa menggacak rambut Zahra, “ya sama-sama nak.” Zahra langsung mencium pipi Bu Merissa dengan manja.
Mereka tersenyum bahagia, Zahra pamitan menuju kamar tidur sambil mengerjakan tugas sekolah untuk dua hari lagi.
@@@
“Assalamu’alaikum Zahra.” Salam Azka bertemu Zahra salah satu tempat toko buku terbesar di sini. Zahra kaget bertemu Azka disini, “Wa’alaikumussalam Azka, apa kabar?” Ramah Zahra sambil tersenyum dan menunduk.
Azka membalas senyuman dari Zahra, “Alhamdulillah baik, Zahra bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillahi Robbil’alaamiin baik Azka.”
“Sudah lama ya nggak ketemu… Zahra sekolah dimana?” Azka bertanya kepada Zahra tetap menunduk.
“Iya sudah lama sejak kelulusan Sekolah Dasar dulu, Alhamdulillah di MAN 2.”
Mereka mengobrol melepaskan rindu yang lama, Azka dan Zahra satu sekolah dasar tepatnya teman waktu dulu, ketika kelulusan Zahra harus pindah ke Bandung mengikuti orang tuanya dinas disana tetapi setelah Zahra duduk bangku sepuluh, ia harus pindah lagi tempat kelahirannya disini
Azka sangat mengingat wajah orang dan namanya meskipun baru ketemu atau tidak ketemu lagi seperti dirinya dengan Zahra, Azka tidak sulit mengingat wajah Zahra sejak dulu sampai sekarang, Zahra tetap menggunakan jilbab segiempat bersama bros bunga hanya saja Zahra dewasa lebih Syar’I dan anggun, sebaliknya juga Zahra mengingat Azka dari suara.
“Azka, Zahra duluan ya. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarahkatuh.” Pamit Zahra, “Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarahkatuh, hati-hati.” Lirihnya melihat kepergian Zahra.
Azka menghampiri kasir membayar buku yang dipilihnya, pelayan kasir yang perempuan tersenyum arahnya sedikit mencari perhatian. Azka membalas senyum pelayan tersebut dengan wajah datar, tetap saja Pelayan tersebut terpesona dengan Azka.
“Azka!” Panggil seseorang berada di belakang, Azka menghentikan langkahnya merasa namanya di panggil seseorang perempuan.
Bella Natasya Herman, pacarnya Aga yang juga teman akrab Azka berlari kecil arah Azka yang sudah berdiri menunggunya.
Ia tersenyum kecil sedikit mengatur napasnya, “Azka beli buku ya?” Pertanyaan konyol, padahal ia lihat kantong putih berisi buku di genggaman Azka.
Azka senyum saja sudah biasa menghadapi Bella, “Iya, bella sendirian disini nggak ngajak Aga?” Tanya Azka melihat sekitar Bella.
Bella menggeleng, “Aga ada kok ka biasa duduk di mobil, dia mana mau lama-lama disini.” Ceritanya, Bella mulai menyamai kecepatan jalan Azka agar sejajar.
Bella sedikit berbeda dengan Zahra dari penampilannya dan nada bicaranya yang blak-blakan serta manja, tetapi Bella anak yang ceria, sabar menghadapi sikap Aga walaupun ia sangat mencari perhatian kepada siapapun dikenalnya khususnya kepada Azka membuat Aga salah paham terhadapnya. Namun, sekarang telah berubah Aga bukan Aga yang dulu dikenalnya membuat onar. Aga sekarang bersahabat kepada Azka dan keluarganya.
“Azka, gue bolehkan main kerumah! Sudah kangen sama tante Rahma dan Yasmin.” Bella bertanya kepada Azka dengan intonasi yang di buat manja, Azka mengangguk tidak melihat ke arah Bella.
Bella tersenyum bahagia, “terima kasih Azka sayang.” Ucapnya membuat Azka kaget mendengar perkataan Bella. Bahaya! Bagaimana kalau Aga mendengar pasti membuat kesalahpahaman antara mereka, Bella benar tidak menyadari atau bagaimana. Azka sudah khawatir sendiri, ia terus mempercepat langkah menghindar akan terjadi.
Bella susah payah menyamai kecepatan langkah Azka sudah depannya, “Azka pelan aja jalannya.” Sungutnya masih mengejar langkah lebar Azka.
Azka tetap mempercepat langkahnya sampai depan pintu keluar, ia sedikit menoleh arah Bella sudah kelelahan mengejarnya sedikit kasihan melihatnya tetapi Azka tidak akan mau membuat kesalahpahaman lagi, “Bella maaf ya, gue duluan! Assalamu’alaikum.” Teriak Azka melambaikan tangannya sembari melangkah keluar toko. Bella kesal sambil menghentakkan kedua kakinya di lantai, ia melangkah malas menuju tempat mobil Aga di parkiran dengan wajah yang di tekuk dan cemberut.
Aga melihat wajah Bella cemberut saat keluar toko buku, heran.
“Ada apa?” Aga bertanya kepada Bella telah duduk sebelahnya.
Bella menatap kesal, “Saudaramu.” Ucapnya cemberut membuat Aga bingung.
“Maksudnya Azka? Kamu ketemu dengannya?” Tanya Aga bertubi-tubi dengan nada sedikit kesal.
Bella semakin kesal Aga terus menanyakan bertubi-tubi, “iih kamu kok nanya banyak banget, satu-satu dong Yang….” Sewot Bella sedikit merajuk.
“Maaf-maaf Yang jangan merajuk gitu dong!” Minta maaf Aga memegang tangan Bella dengan lembut.
Bella sedikit tersenyum sambil menceritakan pertemuan dirinya dengan Azka tadi, Aga hanya mendengar saja walaupun hatinya cemberu dan kesal, meskipun ia tahu jika Bella dan Azka bersahabat tambah Azka meninggalkan Bella ketika Bella memanggilnya sayang.
Aga mulai menghidupkan mesin mobilnya, ketika ia melihat kedepan! Zahra barusan keluar dari toko buku sambil berdiri seperti menunggu jemputan atau taksi mungkin angkutan tetapi mana ada angkutan lewat disini.
Aga ingin menawarkan tumpangan, Bella bagaimana! Ia memperhatikan Zahra dalam mobil, cukup lama melihat Zahra sampai sebuah mobil pazero hitam menghampirinya. Zahra senyum melihat mobil tersebut dan menunggu pengemudi keluar, Pria paruh baya masih tampan, gagah dan berkarisma mendekati Zahra. Zahra berbicara kepada pria tersebut sambil mencium tangannya, mungkin pria paruh baya tersebut ayahnya.
Mobil Sport hitam milik Aga berjalan, Bella tetap diam sesuatu dipikirnya apalagi melihat Aga tiba-tiba diam terus menatap perempuan berjilbab pink yang menunggu jemputan, siapa perempuan tersebut? Selingkuhan Aga mana mungkin, Bella menggeleng kepalanya terus.
“Sayang ada apa?” Bella terdiam menatap sebal arah Aga, “Nggak apa-apa.” Jawab Aga tanpa sadar ketus.
Aga memandangi Bella dengan tampak sebal dan kesal, “Ada apa?” Tanya Aga hati-hati.
Bella membuang muka sedkit mendengus sebal, “Nggak apa-apa,”
“Kok ketus sih Yang jawabnya.” Lembut Aga.
Bella malas menatap Aga, ia ingin menanyakan siapa perempuan berjilbab tersebut pasti Aga akan mengelak tetapi tidak salahnya bertanya, “Biar! Kamu memang Playboy masih suka lirik perempuan lain padahal aku ada di sini.” Marah Bella campur kesal, Aga tersenyum, “siapa yang suka lirik perempuan lain! Kamu dengar ya, aku tidak akan selingkuh darimu apalagi kita sudah dijodohkan.” Kata Aga meyakinkan.
Bella menatap menyelidik tak percaya, “lalu perempuan berjilbab itu siapa?’’ Aga diam menghela napas, “ooh perempuan itu namanya Zahra.” Ucap Aga jujur, Bella semakin curiga, “Kok kamu tahu namanya?” Tanya Bella menyelidiki.
“Ya tahulah, kemarin aku kenalan sama dia soalnya dia cewek unik.” Aga tidak menyadari perkataannya begitu saja, Bella cemburu Aga kenalan dengan perempuan tersebut tambah lagi pujian dari Aga.
Bella marah kepada Aga, “bohong! Kamu memang bohong Aga.” Aga tidak mengerti maksud tuduhan Bella jika ia berbohong, padahal ia sudah jujur mengatakan sebenarnya. Ia menghela napas kasar sambil menepikan mobil pinggir jalan.
“Bella, kok kamu bilang aku bohong sih! Aku nggak selingkuh dengan Zahra, apalagi dia juga mana mau denganku.” Aga salah bicara lagi, Bella menatap tak percaya, “jadi kalau dia mau denganmu, kamu mau gitu dengannya?” Tanya Bella marah.
Aga mengacak rambutnya telah salah bicara, ia harus membujuk Bella, “Bella sayang bukan seperti itu maksud aku, meskipun Zahra suka denganku pasti aku gak mau karena Kamu pacarku, Kamu yang aku cinta Bella.” Jelas Aga meyakinkan meraih tangan Bella dan di genggam erat.
Bella diam, menatap mata Aga apakah benar dikatakan dirinya, sebuah cahaya kejujuran tampak di bola mata Aga. Bella menangis sejak tadi, ia ingin memeluk Aga tetapi ia ingat pesan dari Azka meskipun sedikit dilanggarnya yaitu pegangan tangan. Aga bingung kenapa Bella tidak jadi memeluknya.
“Jangan!” Teriak Bella mencegah Aga mau memeluknya, Aga heran sambil menaikan alisnya, “kita tidak boleh pelukan Aga karena belum halal kata Azka.”
Aga kaget, kenapa perkataan tersebut mirip dengan Zahra, “ya sudah kalau begitu kita halalkan saja biar bisa peluk.” Ucap Aga serius menatap Bella bengong sejak tadi.
Bella memicingkan matanya melirik arah Aga mencium aroma keisengan dari pria ini, “kamu bercanda Aga?” Bella menggeleng kepala karena Aga serius dengan perkataan barusan.
“Aku tidak bercanda Bella, aku serius daripada buat dosa lebih baik kita halalkan.” Serius Aga meyakinkan, Bella bingung apa yang ia lakukan apalagi sebenarnya Bella sangat menginginkan Aga menjadi pasangan hidupnya, Azka pernah bilang juga jika pacaran itu banyak dosa daripada baiknya, apalagi akan lebih mendekatkan zina.
Ia diam, menghentikan taksi, “Ya aku mau tetapi setelah lulus sekolah.” Ujar Bella setelah masuk dalam taksi, Aga tersenyum sambil menuju mobilnya.
Komentar
Posting Komentar